Home home Asimilasi Warga Keturunan di Tegal, Terutama di Pesengkongan dan Panggung

Asimilasi Warga Keturunan di Tegal, Terutama di Pesengkongan dan Panggung

1326
0
klenteng Tek Hay Kiong
klenteng Tek Hay Kiong (Lautan Kebajikan) dibangun tahun 1745 oleh Kwee Lak Kwa

Pada abad 16, Tegal telah mengadakan hubungan dagang dengan negeri Tiongkok, dalam perkembangannya banyak pedagang dan pelayar dari Tiongkok yang menetap di Tegal, salah satunya adalah seorang imigran Tiongkok Kwee Lak Kwa yang datang ke Tegal. Pengetahuannya tentang perikanan dia ajarkan kepada penduduk Tegal sehingga menjadikannya terpandang dan disegani penduduk Tegal.

Kwee Lak Kwa bahkan menentang monopoli yang dilakukan oleh VOC di Tegal, akhirnya ia melarikan diri karena akan ditangkap Belanda. Selama dalam perjalanan Kwee Lak Kwa mencapai taraf kedewaan dan oleh masyarakat dijuluki Tek Hay Cin Jin (Manusia Sejati datang dari Laut). Di tahun 1745 ia kembali ke Tegal sambil menyebarkan agama Kong Hu Cu dan mendirikan Klenteng Tek Hay Kiong (Lautan Kebajikan).

Bukan hanya membuka hubungan dagang dengan Tiongkok tetapi juga dengan pedagang Gujarat (Koja) yang banyak beragama Islam. Sambil berdagang orang-orang Gujarat menyebarkan agama Islam di Tegal, pertama kali di daerah pesisir. Islam yang datang ke Tegal kemudian berasimilasi dengan kepercayaan lama seperti Kejawen dan Hindu.

Di daerah Panggung terdapat paguron agama Islam (kejawen) yang mengajarkan Manunggaling Kawula Gusti sehingga membuat marah penguasa Demak Bintoro. Ajaran Sunan PAnggung dipandang sebagai ajaran yang dianggap sesat, karena lebih bertumpu pada paham hakikat (kebatinan) daripada syariat yang diajarkan para wali (wali struktural).

Ajaran Sunan Panggung lebih menyentuh pada tatar kultural (kejawen), ia terus mengabarkan tentang kesejatian diri dan ilahi. Sultan Demak memanggil Sunan Panggung untuk menerima hukuman di hadapan Dewan Walisanga. Saat dihukum obong oleh dewan walisanga, Sunan Panggung menggoreskan Suluk Malang Sumirang. Selepas menerima hukuman Sunan Panggung memilih untuk menjauh dari lingkungan kesultanan Demak. Sunan Panggung lebih memilih pergi ke hutan Kalampisan, hingga ke Tegal. Di Tegal Sunan PAnggung mengajarkan agama Islam dengan sarana wayang (kresna).

Cikal bakal penyebaran Islam di Tegal diperkirakan bermula dari daerah pelabuhan Tegal yakni di Pesengkongan sebelum menyebar ke daerah pedalaman. Ditandai Masjid Pesengkongan (Al-Hikmah) yang diperkirakan telah berdiri sejak 15 Ramadhan Tahun Wawu 1241 H/1821 M ditandai dengan adanya prasasti ukiran kayu jati dengan motif bunga melati dan mawar di atas pintu masuk sebagai penanda (candra sengkala) pendirian masjid.

candra sengkala Masjid Pesengkongan
Candra Sengkala Masjid Pesengkongan

KOnstruksi bangunan masjid terbuat dari batu bata, ukuran awal 15 x 15 meter berbentuk bujursangkar. Atap terdiri dari dua undakan, hal ini membedakan dengan atap-atap masjid kewalian pada umumnya yang memilih bilangan ganjil pada atapnya. Ornamen masjid pun nyaris tidak ada, hanya ada motif di mihrab dan ventilasi pintu masukmasjid bermotif flaura, hal ini sejalan dengan ajaran Islam tentang adanya larangan gambar atau relief manusia atau binatang di masjid, karena dikhawatirkan bisa menjadi “berhala”.

Beberapa bangunan yang dijadikan fasilitas untuk urusan-urusan agama terdapat di dalam perkampungan Pesengkongan menjadi bukti bahwa di sini merupakan pusat penyebaran Islam.

Adanya Kantor Urusan Agama Islam untuk kepentingan urusan dakwah, pernikahan dan perceraian. Adanya bangunan untuk mengurusi haji dan tempat isolasi sebelum pemberangkatan haji.

Pemberangkatan haji dilakukan dengan kapal laut yang diberangkatkan oleh swasta (partikelir) melalui pelabuhan Tegal (1830). Belanda memang tidak mengadakan urusan haji karena mereka takut sepulang dari tanah Mekkah banyak pribumi yang kemudian membrontak.

Di dalam kampung Pesengkongan, di sebelah utara dekat dengan laut, tahun 1830 didirikan Langgar Panggung untuk memenuhi kebutuhan beribahat palut-pelaut Bugis, Madura, Sumatera dan Kalimantan yang sedang berlabuh. Konstruksi bangunanLanggar Panggung terbuat dari kayu jati dengan corak bangunan perpaduan rumah panggung Sumatera dengan hanya satu atap mustaka berbentuk stupa.

Bentuk bangunan bujursangkar 10 meter x 10 meter, dinding terbuat dari kayu dengan motif-motif sangat sederhana, hanya berbentuk jeruji kayu pada lantai atas, karena mushola ini difungsikan untuk tempat istirahat pelaut serta dibangun agar bisa mengintip ke lepas pantai untuk melihat kapal yang akan berlabuh atau tambat. Sementara bangunan bawahnya digunakan untuk bangunan boro  tanpa sekat, difungsikan untuk istirahat pelaut.

Sumber : Tegal Stad – Evolusi Sebuah Kota, Yono Daryono dkk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here