Home home Asal Mula Kota Tegal – Bag 2

Asal Mula Kota Tegal – Bag 2

4591
1

Baca sebelumnya :
Asal Mula Kota Tegal – Bag 1

Pada zaman itu, jarak tempuh Mataram ke Jayakarta masih terbilang jauh dan sulit. Belum ada jalan raya seperti zaman sekarang. Jadi, harus disediakan pos-pos istirahat, gudang perbekalan, dan pusat-pusat persenjataan. Pantau utara dipandang penting untuk perjalanan itu. Medannya datar dan berlimpah hasil sawah ladangnya. Alasan lain adalah mudah menempuh pelayaran di Laut Jawa. Itulah sebabnya Sultan Agung memperkuat kekuasaannya di sepanjang pantai utara Jawa.

Desa-desa dan pemukiman yang mulai ramai mendapatkan perhatian yang serius. Di sanalah kekuatan Mataram ditanamkan dengan kokoh. Kelak terbukti, tempat kekuasaan MAtaram itu menjadi Kota-kota yang penting, yaitu Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Jadi, pertumbuhan kota-kota atau daerah tersebut tidaklah berjalan sendiri-sendiri. Ada hubungan yang erat berkat kekuasaan dan kebesaran Mataram.

Tetegal yang semakin ramai penduduknya dipercayakan kepada Ki Gede Sebayu dengan pangkat Demang. Sekarang kira-kira setingkat dengan kepala Desa atau Lurah. Waktu itu, Tetegal termasuk wilayah Kadipaten Pemalang. Ki Gede Sebayu memerintah Tetegal dengan adil dan bijaksana. Dia memikirkan kepentingan penduduk dengan bersungguh-sungguh. Buktinya, dia membangun bendungan atau waduk di wilayah selatan yang bergunung-gunung. Maksudnya untuk mengairi ladang (tegal) dan sawah-sawah di sekitarnya. Usaha lain adalah membangun pelabuhan yang lebih baik.

Ki Gede Sebayu meninggal setelah berhasil membangun Bendungan Danawarih. Letaknya di sekitar kota Slawi, kira-kira 15 kilometer di selatan kota Tegal. Makamnya juga di dekat bendungan tersebut. Selanjutnya, pemerintahan Tetegal dipercayakan kepada anaknya, Ki Gede Honggowono dengan pangkat Demang. Pada masa dialah mulai dibangun jaringan irigasi sehingga sawah ladang yang semula tandus menjadi subur dan berlimpah hasilnya. Perdagangan juga semakin ramai dan pelabuhan terus berkembang.

Setelah wafat, pemerintahan Tetegal dilanjutkan oleh anak lelakinya yang juga bernama Ki Gede Honggowono. Kesamaan nama seperti itu disebut nunggak semi. Maksudnya, sebagai penghormatan terhadap orang tuanya. Biasanya nama orang Jawa terdiri dari nama kecil dan nama dewasa atau nama tua. Nama tua adalah nama yang disandang setelah menikah. Misalnya, waktu kecil bernama Subur dan setelah menikah menjadi Subur Kartoraharjo. Biasanya, nama tua itu sama atau sepadan dengan nama ayah atau kakek. Hal itu penting bagi kaum priyayi atau bangsawan sebab namanya dapat sekaligus menunjukkan asal-usul atau garis keturunan.

Tampaknya, hal itu pun berlaku pada keturunan Ki Gede Sebayu. terbukti anaknya diangkat menjadi Demang, kemudian sang cucu Hanggowono diangkat oleh Sultan Agung menjadi Adipati Tegal. NAma pun berganti menjadi Ki Gede Hanggowono Sekomenggolo atau Tumenggung Reksonegoro I.

Pada masa itu, Kadipaten Tegal sudah terbilang maju dan dipandang penting sebagai pos kekuasaan Mataram. Karena itu, pada awal abad ke-17 ditetapkan menjadi kabupaten dengan wilayah menjangkau Brebes. Namun, pada tahun 1670 Brebes ditetapkan menjadi kadipaten tersendiri di bawah kekuasaan Raden Tumenggung Mertoloyo yang bergelar Pangeran Adipati Mertoloyo.

Waktu itulah banyak pandai besi dari Mataram yang dikirim ke Tegal. Mereka ditugasi membuat senjata seperti keris, pedang, dan tombak untuk persiapan perang mengusir Belanda di Batavia. Keturunan mereka ternyata mewarisi keahlian mengolah besi. Terbukti sampai sekarang orang Tegal terkenal sebagai ahli mesin-mesin.

Pada tahun 1628 dan 1629, Sultan Agung menyerang Jayakarta atau Batavia, tetapi gagal karena kalah persenjataan, kacau perbekalannya, dan banyak prajurit yang terserang penyakit malaria.

Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan pemerintahan Mataram dipegang oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat I. Sayang sekali, Sunan Amangkurat I tidak sehebat ayahnya sehingga timbul kemelut dan perebutan kekuasaan. Untuk mengatasinya, Sunan Amangkurat I menjalin kerjasama dengan Belanda yang populer dengan sebutan kompeni.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Tegal tetap mewarisi semangat Ki Gede Sebayu dan kewibawaan Sultan Agung. Masyarakat Tegal terus berjuang melawan penjajah Belanda.

Sekarang kota Tegal telah berkembang menjadi pusat perdagangan, pertanian, industri, dan pelayaran. Pemerintahan Kota Tegal meliputi Kecamatan Tegal Timur, Kecamatan Tegal Barat, Kecamatan Tegal Selatan, dan Kecamatan Margadana. Hari jadi kota tersebut tercatat 12 April 1580.

Selama beratus tahun di kota itu pun ada kantor Kabupaten Tegal yang dipimpin Bupati. Akan tetapi, pada tahun 1986 Kantor Pemerintah Kabupaten Tegal dipindahkan ke Slawi. Adapun hari jadi atau tanggal lahirnya tercatat 18 Mei 1604.

Sumber : Cerita rakyat dari Tegal (Jawa Tengah), Oleh Yudiono KS

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here