Home fakta Ternyata, Tegal Pernah Menjadi Tempat Penobatan Raja Mataram

Ternyata, Tegal Pernah Menjadi Tempat Penobatan Raja Mataram

3363
0
Gerbang Utama - Komplek pemakaman Sunan Amangkurat, Tegalwangi

Gambaran lain tentang Tegal dapat pula ditelusuri dari Adipati Anom yang akhirnya menjadi Raja Mataram. Sepeninggal ayahnya, ia sempat berkeinginan berkelana bahkan ingin pergi haji ke Mekah. Ia sempat memerintahkan kepada Martalaya agar membuatkan sebuah perahu besar untuk mewujudkan keinginannya pergi ke Mekah.

Namun niatnya itu ia urungkan setelah berpikir lebih panjang dan akhirnya memutuskan untuk bertekad merebut kraton dari tangan Trunajaya. Ia memerintahkan Martalaya untuk mempersiapkan perang. Adipati Anom meminta bantuan pembantunya Ki Andakara dan Nirdakarti pergi ke Batavia untuk bertemu Jenderal Belanda. Bala tentara Kompeni dipimpin Tuan Amral Helduweldeh. Mereka inilah yang sempat diterima Adipati Anom di Alum-alun Tegal dengan sikap tanpa menyembah namun kemudian bisa dimaklumi karena sang Adipati bisa menghargai sikap Kompeni tersebut.

Pada saat yang bersamaan Adipati Anom juga tengah mempersiapkan penobatannya sebagai Raja Mataram. Ketika tentara KOmpeni sudah tiba maka dikumpulkan pula para ulama, para alaim, dan punggawa besar serta kecil semuanya hadir untuk menyaksikan penobatan raja. Ia kemudian menobatkan diri sebagai raja dengan gelar Susuhunan Amangkurat Senapati-Ing-Alaga Ngabdurrahman Sayidin Natagama (Amangkurat II).

Raja naik tahta pada hari Rabu Pon, Tanggal dua puluh empat bulan Sura, tahun Wawu. Tidak lama kemudian kemudian kraton berdiri di Tegal, rakyat di wilayah Tegal tunduk pada Raja Muda. Begitu juga orang pesisir, dan orang-orang yang semula mengabdi pada Sunan Amangkurat. Orang-orang Mataram berdatangan mengabdi kepada Raja Prabu Anom Amangkurat. Sang raja kemudian mengambil orang Tegal untuk dijadikan abdi sebanyak tujuh ratus orang sebagai andalan perang yang disebut Wong Jagapura.

Setelah mengabdi, orang Kadipaten Tegal dinaikkan pula pangkatnya. Banyak di antara mereka yang duduk di lampit Tegal Arum. Salah satu di antaranya, Ki Pranantaka, karena berhasil melakukan tugas mendapatkan sepasang kembang Wijayakusuma, diberi nama Arya Sindureja yang menunjukkan pangkatnya telah dinaikkan sangat tinggi. Ki Pranantaka, waktu jadi panakawan bernama Gendowor.

Di negeri Tegal, Kanjeng Sunan Amangkurat II memanggil para mantrinya. Sindureja yang diutus Raja ke negeri Kedu telah datang. Kedu dan negeri-negeri pesisir sebelah barat Semarang sudah takluk. Demikian juga Kaliwungu, Kendal, Batang, Pemalang dan Pekalongan.

Babad Tanah Jawa cukup banyak menceritakan Tegal dengan legenda-leganda dapoat menjadi petunjuk sejarah. Satu hal yang cukup menarik adalah bahwa Tegal pernah menjadi “Ibu Kota Kerajaan Mataram”. Namun sejauh ini kita belum mengetahui secara persis dimana pesanggrahan ataupun kraton Tegal tempat raja bertahta yang dimaksud dalam Babad Tanah Jawa.

Di kompleks makam Sunan Amangkurat I, masyarakat lingkungan makam lebih akrab menyebut Pesarean daripada Tegalwangi. Selain Pesarean di muka gerbang 3 makam Amangkurat, disebut desa Lemahduwur. Lemahduwur (bahasa Tegal) dalam bahsa Jawa kromo siti inggil atau sitihinggil. Sitihinggil merupakan tanah yang ditinggikan untuk balai penghadapan setelah warga melewati alun-alun.

Ada upaya memindahkan suasana kraton mataram ke wilayah Tegalwangi dimana Sunan Amangkurat I dimakamkan. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan pesanggrahan atau kraton tempat Sunan Amangkurat II bertahta waktu di Tegal adalah tegalwangi kompleks makam Sunan Amangkurat I.

Sumber : Tegal Stad – Evolusi Sebuah Kota, Yono Daryono dkk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here