Home fakta Tegalwangi, Tempat yang Diwasiatkan Amangkurat I

Tegalwangi, Tempat yang Diwasiatkan Amangkurat I

4885
1

Pemberontakan Trunajaya mendapat simpati dan dukungan dari Kasultanan Banten dan Kasultanan Cirebon, kemudian Trunajaya menyerbu Mataram. Pada awal penyerbuan Susunan Amangkurat dengan bantuan Belanda mampu membendung amukan Trunajaya. Akan tetapi, akhirnya Trunajaya berhasil mencapai kemenangan dan menguasai propinsi-propinsi utama di Jawa. Setelah Trunajaya berhasil menaklukan Pajang, mereka kemudian mulai memasuki Mataram. Sang Susuhunan Amangkurat Agung, melihat tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk dapat tetap hidup kecuali melarikan diri dari Mataram, maka Susuhunan mengumpulkan seluruh benda-benda kebesaran kerajaan, pergi meninggalkan Kraton Mataram dengan tujuan berlindung kepada Kompeni Belanda di Batavia. Perjalanan ke Batavia itu diikuti oleh permaisuri Kanjeng Ratu Kencana, kedua putrinya Raden Ayu Klenting kuning dan Raden Ayu Klenting Abang putri dari Raden Ayu Mulat, diiringi adiknya Pangeran Puger, serta punggawa kraton yang ditugasi membawa pusaka-pusaka Kraton Mataram. Senjata andalan Kraton Mataram seperti Keris Mahesa Nular dan Tombak Kiai Plered diserahkan kepada pangeran Puger.

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History Of Java menyebutkan, setelah Susuhunan mengumpulkan seluruh benda-benda kebesaran kerajaan, ia pun pergi meninggalkan ibukota kerajaannya dengan disertai empat orang putranya, untuk pergi ke arah barat dengan menunggang seekor gajah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1600 tahun Jawa.

Keesokan harinya (bulan Juni 1677 M), bala tentara Madura berhasil memasuki Mataram, kemudian melakukan pengejaran terhadap raja yang menjadi buron mereka. Susuhunan terdesak hingga ke daerah perbukitan Kendang, dan berhasil mencapai Kajinan dengan tujuan mendirikan daerah pertahanan mereka di sana. Namun, setelah mendengar besarnya kekuatan pasukan yang mengejar mereka, Sang susuhhunan kemudian pergi meninggalkan keluarganya di tempat itu, dengan hanya disertai satu putranya, Pangeran Adipati, Susuhunan menuju ke desa Pasiraman. Tidak lama setelah sampai di Pasiraman penyakitnya kambuh, dan Sang Susuhunan meninggal dunia (Raffles, 2008, hlm 517-518).

Makam Amangkurat I - Makam raja Mataram Amangkurat I yang meninggal tanggal 12 Juli 1677 di Tegalwangi, Tegal
Makam Amangkurat I – Makam raja Mataram Amangkurat I yang meninggal tanggal 12 Juli 1677 di Tegalwangi, Tegal

Untuk mengabulkan keinginan mendiang ayahnya, jenazah Sang Susuhunan kemudian dibawa oleh Pangeran Adipati Anom melintas negeri menuju Tegal, dalam pencariannya atas sebuah tempat dimana tanahnya berbau harum. Pencarian sebuah tempat yang tanahnya berbau harum ini, seperti yang diwasiatkan ayahandanya.

Dalam Babad Tanah Jawa dituturkan riwayat Amangkurat I mulai dari kepergiannya dari Plered sampai meninggalnya di Ajibarang dan dimakamkan di Tegalwangi, Tegal. Pangeran Adipati Anom dan Raden Tapa putra bungsunya, tidak mampu menahan haru, suara tangisnya seperti “prahara”, tanggal 12 Juli 1677 Sunan Amangkurat Agung wafat.

Adipati Anom kemudian mengabarkan wafatnya Amangkurat I kepada Tumenggung Martalaya. Jenazah Amangkurat I dibawa Tumenggung Martalaya ke negeri Tegal. Pangeran Adipati Anom mengiringi jenazah raja sampai di Astana Tegal, dekat Bumiwangi (Tegalwangi). Tidak lama kemudian tanggal 13 Juli 1677, jenazah raja dimakamkan (Babad Tanah Jawa, buku III, 2004 Amanah-Lontar).

Makam BRA.Klenting Kuning - Salah satu purti Raja. Makam Kanjeng Ratu Kencana - Istri Amangkurat
Makam BRA.Klenting Kuning – Salah satu purti Raja. Makam Kanjeng Ratu Kencana – Istri Amangkurat

Sebelum wafat, tanggal 10 Juli 1677, sesudah larut malam, Sunan Amangkurat menyerahkan pemerintahan Mataram kepada putranya Pangerah Adipati Anom. Sang ayah kemudian berpesan, agar anaknya merebut negeri Mataram dari tangan Trunajaya, dengan berperang. Kalau ia meninggal, minta agar dimakamkan di Tegal, tidak jauh dengan guruku – Kiai Lembah Manah. “jika di situ ada tanah yang menonjol, ciumlah segera apakah tanah itu mengeluarkan bau wangi, maka di situlah tempat makamku,” begitu pesannya.

Setelah pesan selesai, sakit Sang Raja semakin berat dan wafatlah Sang Raja Mataram. Sesuai pesan almarhum, Adipati Anom kemudian memakamkan sang ayah di sebuah desa yang kemudian kini dikenal sebagai Desa Tegalwangi.

Di tempat ini juga terdapat makam Klenting Kuning, anak Amangkurat I dan Kanjeng Ratu Kencana. Klenting Kuning diperistri Mertasura yang bergelar Tumenggung Yudanegara Bupati Banyumas V.

Sumber : Tegal Stad – Evolusi Sebuah Kota, Yono Daryono dkk.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here