Home fakta Tegal, Saksi Bisu Pertempuran Mataram dan Belanda

Tegal, Saksi Bisu Pertempuran Mataram dan Belanda

1800
0
Kali Bacin - Muara Sungai Gung yang terletak di sebelah timur Pelabuhan Tegal

…Bersama dengan Pangeran Purbaya, Martalaya berhasil menaklukan Wirasaba, Lasem, Tuban, Pasuruan dan daerah-daerah lain yang menjadi “musuh” Mataram. (klik untuk baca sebelumnya)

Setelah berhasil meredam pemberontakan Pati, Sultan Agung mencurahkan perhatiannya pada pelaksanaan rencanayang telah lama diidam-idamkan, yaitu merebut tempat kedudukan Belanda. Perhatiannya ke Banten terhalangi oleh keinginan Susuhunan agar Kompeni berlutut di bawah kekuasaan Mataram.

Dua kapal pesiar Belanda di Jepara dikejar dan dirompak, maka pada bulan Agustus 1626 dalam Sidang Dewan Hindia diputuskan untuk mengirimkan pesan ke Mataram melalui suatu utusan khusus. Seperti yang teruraikan oleh De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram (Th.1986, hlm. 149), Kepala perdagangan Sebald Wonderaer pada 23 Agustus 1626 dikirim sebagai pimpinan utusan. Tetapi Tumenggung Tegal Menolak, karena gelar Sri Bagunda ditulis kurang tinggi. Sejak saat itu hubungan Mataram dengan Batavia merenggang.

Hubungan Mataram dan Belanda semakin memanas. Pengepungan dan penyerangan terhadap Batavia terus dilakukan. Tegal menjadi pusat konsentrasi pasukan Mataram sebelum menyerang Batavia. Untuk merebut Batavia dengan penyerbuan dan menggunakan cara yang telah diuji keberhasilannya pada pertempuran Surabaya, yaitu membendung sungai. Pasukan Mataram yang dipimpin Baureksa membendung sungai Ciliwung.

Walaupun serangan Mataram kurang mendapatkan hasil maksimal, tetapi pengepungan dan penyerangan Mataram yang pertama cukup membuat Belanda kewalahan. Tahun 1629, Mataram kembali melakukan persiapan pengepungan dan penyerangan ke Batavia. Martalaya menawarkan perdamaian atas nama raja Mataram, “Raja Mataram minta maaf”. (De Graaf, Punak Kekuasaan Mataram, hlm. 155).

Beedalih perdagangan, orang Jawa diperbolehkan mengangkut beras, dan ini kesempatan untuk mengangkut beras dalam jumlah besar melalui pantai dan menimbunnya. Tumenggung Tegal membawa lebih dari 100 kapal dengan muatan padi dari Mataram. Pengangkutan beras seperti itu diketahui oleh dua kapal Belanda di Tegal yang dikirim untuk pengintaian. Martalaya beralasan padi itu diperuntukkan bagi Batavia. Di Tegal hanya untuk menumbuk padi tersebut.

Tetapi akhirnya Belanda tahu bahwa Tegal menjadi lumbung makanan untuk persiapan pengepungan dan penyerbuan ke Batavia yang kedua. Belanda mengirim pasukan dengan tiga kapal ke Tegal, Tegal dibumihanguskan. Kapal-kapal pemuat bahan makanan dan gunungan pagi dibakar Belanda.

Sejarah mencatar, penyerangan ke Batavia kembali gagal, Baureksa meninggal, tetapi Belanda juga kehilangan gubernur jendralnya. Tanggal 20 September 1629, JP Coen meninggal dunia karena sakit kolera dampak aksi pasukan Mataram membendung sungai Ciliwung.

Kerajaan Mataram kurang lengkap tanpa kiprah Tumenggung Tegal. Willem Remmelink ahli Sinologi (ilmu tentang Cina) dari Universitas Leiden, Belanda yang juga mengajar sejarah dan bahasa Belanda di Universitas Gajah Mada dari tahun 1977 hingga 1984 banyak menyebut Tegal dalam buku Perang Cina dan Runtuhnya Negara Jawa 1725-1743 (pertama diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Jendela, 2002).

Betapa pentingnya Tegal bagi Mataram demikian pula Kompeni. Maka untuk dapat memudahkan komunikasi dan transportasi serta pengawasan, Mataram membuat jalur darat yang menghubungkan Mataram dan Tegal. Selama ini untuk mencapai Tegal, Mataram harus ke Semarang atau Jepara dengan menggunakan kapal ke pelabuhan Tegal

Sumber : Tegal Stad – Evolusi Sebuah Kota, Yono Daryono dkk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here