Home fakta Catatan Sejarah Masyarakat Pesengkongan, Tegal

Catatan Sejarah Masyarakat Pesengkongan, Tegal

1857
0
Suasana saat sedekah laut di pantau utara, muarareja, Tegal
Suasana saat sedekah laut di pantau utara, muarareja, Tegal

Pesengkongan adalah wilayah metropolis klasik di Tegal, karena penduduknya yang multietnis Jawa, Madura, Bugis, eropa, Gujarat (Koja), Sumatera, Tionghoa. Pesengkongan menjadi titik temu bermacam-macam etnis karena kampung Pesengkongan merupakan wilayah yang ramai karena dekat dengan pelabuhan Tegal.

Pada awalnya Pesengkongan merupakan persinggahan sementara bagi mereka yang melakukan perniagaan di Tegal, namun sejalan perjalanan waktu etnis Madura, Bugis, Sumatera, Koja (Gujarat) dan Tionghoa tidak hanya singgah di Tegal, bahkan ada dari mereka yang menetap dan membawa keluarga.

Mereka kemudian membentuk kampung-kampung berdasarkan etnis seperti Etnis Bugis membentuk perkampungan di daerah timur pesisir pantai sekarang dikenal kampung Kebogisan, orang-orang Sumatera dan Koja (Gujarat) lebih banyak menempati daerah Pesengkongan sekarang dikenal kampung Melayu (Encik) yang hidup berdampingan dengan etnis Tionghoa yang mendiami kampung pecinan (Paweden). Sementara orang-orang Madura menempati daerah Tegal agak selatan membentuk kampung Kemeduran (Slerok).

Dalam profesi pun ada ciri-ciri yang membedakan penduduk Pesengkongan, misalnya etnis Koja dan Melayu lebih memilih profesi mekanik, ahli besi dan tukang kapal. Etnik Madura bergerak di perniagaan ternak kuda yang didatangkan dari Nusa Tenggara sehingga ada sebutan Kampung Pejaranan, Tionghoa bergerak pada pembuatan kuliner dan kue hingga saat ini di kampung Paweden terkenal dengan kue Cinanya seperti dodol ranjang, bapia, dan latopia-nya.

Jejak-jejak multietnis perkampungan Pesengkongan masih bisa dilihat dari sisa-sisa bangunan rumah tua yang ada, perpaduan corak rumah Jawa (Joglo), Maduranan, Maksaran dan Pecinan. Sementara bagian luar dikelilingi tembok setinggi 1,5 meter dengan pintu-pintu gapura dengan bagian atas berundak.

Akulturasi dengan penduduk pribumi Tegal pada awalnya sangat susah karena kampung tersebut disekat oleh tembok. Dalam pernikahan anak-anak perempuan peranakan etnis tersebut sangat sulit menikah dengan pemuda pribumi di luar tembok perkampungan dengan alasan untuk menjaga kemurnian darah leluhur. Hal ini sengaja dibentuk oleh pemerintah kolonial, dengan membagi kelas masyarakat ke dalam tiga golongan, yakni masyarakat Eropa, masyarakt Timur Asing, dan bumiputera.

Perbedaan kelas ini dilegalkan dalam undang-undang SI (Indische Staatsregeling) pasal 163, yang mau tidak mau menguntungkan bangsa Tionghoa dan orang-orang pendatang (Bugis, Melayu, Madura, Koja). Meskipun sejalan dengan perjalanan waktu masyarakat pendatang di luar keturunan Tionghoa kemudian mengalami pergeseran pandangan dengan mulai membuka diri melakukan asimilasi melalui perkawinan dengan penduduk pribumi (Tegal), itupun hanya diperbolehkan bagi laki-lakinya, sedang untuk perempuan hanya diperbolehkan perkawinan antar kerabat.

Kedekatan agama barang kali yang menjadi pembuka asimilasi di perkampungan Pesengkongan. Masjid menjadi simbol penanda titik temu mereka yang lintas etnis. Orang Belanda menyebut masjid Pesengkongan sebagai “masiggit”  atau majelis.

Sumber : Tegal Stad – Evolusi Sebuah Kota, Yono Daryono dkk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here